Rabu, 14 November 2012

Keutamaan Membaca Al-Qur an


Para fuqoha telah bersepakat bahwa membaca Al Qur’an lebih utama daripada dzikir-dzikir maupun wirid-wirid lain yang dikhususkan pada suatu masa atau tempat tertentu, sebagaimana ditunjukkan oleh al qur’an maupun sunnah.


Diantaranya firman Allah swt :


إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا



Artinya : “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al Isra : 9)


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا



Artinya : “Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra : 82)




لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ



Artinya : “Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al Hasyr : 21)

Adapun diantara dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah saw :


Sabda Rasulullah saw,“Orang yang mahir dalam Al Qur’an bersama duta-duta mulia lagi suci. Dan siapa yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Sabda Rasulullah saw,“Orang yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf akan tetapi alih satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Sabda Rasulullah saw,“Dikatakan kepada para pembawa al Qur’an : baca dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau telah mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad)

Namun para ulama berbeda pandapat tentang perbedaan keutamaan diantara ayat-ayat Al Qur’an :

Jumhur ulama berpendapat bahwa sebagian surat dan ayat didalam Al Qur’an lebih utama dari sebagian yang lain berdasarkan nash-nash yang ada, diantaranya sabda Rasulullah saw,”Tidakkah kamu melihat ayat-ayat yang diturunkan pada waktu malam hari dan tidak satupun seperti ayat-ayat itu? Qul A’udzu birobbil falaq dan Qul A’udzu birobbin naas.” (HR. Muslim)

Sabdanya saw, ”Sesungguhnya satu surat didalam Al Qur’an yang terdapat didalamnya 30 ayat dapat memberikan syafaat bagi sseseorang sehingga dia diampuni (dosa-dosanya), yaitu surat Tabarokalladzi biyadihil mulk’ (Al Mulk).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Sementara Malik, Abul Hasan al Asy’ariy, Ibnu Hibban, Yahya bin Yahya dan al Qodhi Abu Bakar al Baqilani berpendapat bahwa tidak ada didalam Al Qur’an satu (ayat atau surat) yang lebih utama dari yang lainnya karena seluruhnya adalah perkataan Allah swt lalu bagaimana sebagiannya lebih utama dari sebagian yang lainnya? Bagaimana bisa sebagiannya lebih mulia dari sebagian lainnya? Dan agar tidak membuat bingung adanya yang dilebihkan berarti mengurangi kelebihan yang lainnya, untuk itu Imam Malik memakruhkan mengulang-ulang bacaan suatu surat sementara tidak pada surat yang lainnya. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 11634)

Banyak sekali kitab-kitab yang mengulas tentang keutamaan membaca Al Qur’an ini dikarenakan banyaknya dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut baik dalil-dalil yang bersumber dari Kitabullah maupun hadits-hadits Nabi saw.
Diantara keutamaan-keutamaan lainnya yang disebutkan oleh asy Syeikh al Imam Abul Fadhl Abdurrahman bin Ahmad bin al Hasan ar Roziy al Muqri’ didalam kitabnya “Fadho’ilul Qur’an” adalah :

1. Keutamaan Al Qur’an dibandingkan perkataan-perkataan lainnya :
Sabda Rasulullah saw,”Keutamaan firman Allah azza wa jalla dibandingkan seluruh perkataan bagaikan keutamaan Allah dengan selain-Nya (makhluk-Nya.” (HR. Ad Darimi)

2. Al Qur’an lebih dicintai Allah swt daripada langit dan bumi serta yang ada didalamnya.

Sabda Rasulullah saw,”Al Qur’an lebih dicintai Allah daripada langit dan bumi serta yang ada didalamnya.” (HR. Ad Darimi)

3. Al Qur’an adalah cahaya ditengah kegelapan

Sabda Rasulullah saw,”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan Al Qur’an sesungguhnya ia adalah cahaya kegelapan, petunjuk di siang hari maka bacalah dengan sungguh-sungguh.” (HR. Baihaqi)

4. Ahlul Qur’an adalah keluarga Allah swt

Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.’ Beliau saw ditanya,’Siapa mereka wahai Rasulullah.’ Beliau saw menjawab,’mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

5. Mereka adalah sebaik-baik umat.

Sabda Rasulullah saw,”Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori, Abu Daud dan tirmidzi)

6. Mereka diberikan apa-apa yang diberikan kepada para nabi kecuali wahyu
“Pada hari kiamat didatangkan para pembawa Al Qur’an lalu Allah azza jalla berkata,’kalianlah wadah perkaan-Ku (Al Qur’an) maka aku berikan kepada kalian apa-apa yang Aku berikan kepada para nabi kecuali wahyu.” …… (Fadhoilul Qur’an hal 9 – 11) disadur dari eramuslim

Atau bisa juga dibaca disini

Wallahu A’lam

Kewajiban Menuntut Ilmu


Di era sekarang ini dunia pendidikan, sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai predikat sekolah, munculnya banyak lembaga bimbingan belajar, tempat kursus, dan lain-lain. Pernahkah kamu berfikir bagaimana pandangan Nabi Muhammad SAW yang hidup kira-kira 1500 tahun yang lampau tentang pendidikan, baik menyangkut tentang kewajiban menuntut ilmu? Kapan dan di mana umat Islam diwajibkan menuntut ilmu. Sebaiknya kita ikuti pembahasan selengkapnya mengenai hadits tentang menuntut ilmu berikut ini.



A.   Hadits Nabi saw Tentang Menuntut Ilmu
Hadits tentang salah satu Fungsi ilmu



مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ  وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ (رواه الطبراني)




Artinya,’Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, mak ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu.” (HR. Thabrani)



Hadits tentang hukum menuntut ilmu



رَوَاهُ ابْنُ عَبْدُالْبَر))  طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ


    Artinya :

    Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”(HR. Ibnu Abdil Bari)

Kewajiban mencari ilmu itu tidak memandang batasan usia, melainkan seumur hidup. Sabda Nabi SAW
أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْْدِ (رواه مسلم)

  Artinya,     “Carilah ilmu itu sejak dari ayunan sampai masuk ke liang lahat”(HR. Muslim)

Menuntut ilmu itu harus mau bersusah payah, karena ilmu itu harus dicari di mana saja,  sekalipun sangat jauh tempatnya dan banyak rintangannya, seperti sabda Nabi SAW :



أُطْلُبُواالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصّيْنِ {رَوَاهُ عَبْدُالْبَر}  


       Artinya ,

             “Carilah ilmu itu walau di negeri Cina”.(HR. Abdul Bar)



Etika menuntut ilmu
تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ ( رَواهُ الطَّبْرَانِيْ)

Artinya,”Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR Tabrani)

Keutamaan menuntut ilmu
Banyak hadits Nabi SAW yang mengungkapkan keutamaan / fadhilah menuntut ilmu, diantaranya sebagai berikut :

Dimohonkan ampun dosanya oleh semua makhluk



عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، وَإِنَّ طَالِبَ اْلعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْ حَتَّى ألْحِيْتَانَ فِي الْبَحْرِ ( رواه ابن عبد الرّحْمَن)


   ِArtinya,“Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda: menuntut ilmu itu  wajib atas setiap orang Islam, karena sesungguhnya semua (makhluk) sampai binatang-binatang yang ada di laut memohonkan ampun untuk orang yang menuntut ilmu”. (H.R. Ibnu Abdurrahman)



Dimudahkan jalan masuk surga



عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ”. (رواه مسلم)


Artinya, “Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w bersabda: Barang siapa yang menempuh perjalanan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga”. (H.R. Muslim)



Digolongkan sebagai orang yang jihad fi sabilillah



مَنْ خَرَجَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ الله حَتَّى يَرْجِعَ ( رَوَاهُ التِّرْمِذِي )


Artinya,” Siapa yang keluar (dari rumah) dalam (keadaan) menuntut ilmu, maka ia itu termasuk fi sabilillah sampai ia kembali/pulang.” (HR. Turmudzi)

Arti Kata-kata (mufrodat)

عََنْ , مِنْ                              :   dari

مَنْ                                     :    siapa

أَرَادَ                                   :   menghendaki / menginginkan

فَعَلَيْه                                  :   maka wajib atasnya

قَالَ                                    :    Ia telah berkata

طَلَبُ                                  :    Menuntut/mencari

اَلْعِلْمُ                                   :    Ilmu itu

تَعَلَّمُوْا                                 :   belajarlah kamu semua

وَعَلِّمُوْا                                :    dan mengajarlah kamu semua

لِمُعَلِّمِيْكُمْ                              :    terhadap guru-gurumu

وَلَيَلَوْا                                 :    dan berlaku baiklah kamu semua

فَرِيْضَةٌ                              :    Wajib

عَلَى                                  :    atas

كُلِّ                                   :     tiap-tiap/ setiap

أَلْمَهْدِ                                 :    ayunan

أَلَّلحْدِ                                 :     liang lahat

إِنَّ                                    :     Sesungguhnya

يَسْتَغْفِرُ لَهُ                           :     Memohonkan ampun untuknya

كُلُّ شَيْءٍ                            :     Segala sesuatu

حَتىَّ                                  :     Hingga/sampai

اَلحِْيْتَانَ                               :     Binatang-binatang

فِي اَلْبَحْر                            :     di dalam laut

سَلَكَ                                 :     berjalan

يَلْتَمِسُ                                :     menyentuh / mendapatkan

طَرِيْقًا                               :     jalan

سَهَّل الله                            :     maka Allah memudahkan

اَلْجَنَّة                                :    Surga

خَرَجَ                              :     Keluar

حَتَّى                               :     Sehingga

يَرْجِعَ                              :     ia kembali/ ia pulang





B.      Penjelasan Hadits
Ilmu itu sangat penting bagi kehidupan manusia. Dengan ilmu manusia dapat mengetahui segala hal termasuk mengetahui  kebesaran dan kekuasaan Allah, sehingga dengan begitu manusia dapat selalu dekat dengan Sang Maha Penciptanya. Karena dengan ilmu itu manusia dapat mengetahui kedudukannya di hadapan Allah dan bagaimana ia harus berbuat. Disamping itu, dengan ilmu pula manusia dapat mengetahui rahasia – rahasia ciptaan Allah, sehingga ia dapat melaksanakan fungsi- fungsi kekhalifahannya di bumi, yakni memanfaatkannya untuk kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Karena itu dalam hadits di atas Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita,” jika manusia ingin mendapatkan kehidupan yang baik di dunia hendaknya diraih dengan ilmu, jika menginginkan kehidupan yang baik di akhirat hendaknya dengan ilmu, dan jika menginginkan kedua-duanya juga hanya bisa diraih dengan ilmu.”

Mengingat pentingnya ilmu itu, hadits di atas menjelaskan bahwa menuntut ilmu sangat diwajibkan bagi setiap orang Islam tanpa terkecuali, baik laki-laki, perempuan, tua maupun muda. Menuntut ilmu disini mengandung makna yang sangat luas, yaitu mencari ilmu pengetahuan melalui proses belajar, baik melalui bimbingan orang lain (guru) maupun secara mandiri atau otodidak. Belajar secara mandiri dapat dilakukan dengan membaca, mengamati dan mempelajari suatu ilmu tanpa bantuan orang lain (guru). Tetapi harus diingat, tidak semua ilmu itu dapat dipelajari secara sendiri. Hal itu di samping karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki individu itu sendiri sehingga butuh bantuan orang lain yang lebih ahli, juga dikarenakan adanya ilmu yang dalam mempelajarinya harus melalui bimbingan guru / mursyid, terutama dalam belajar membaca Al-qur’an, aqidah dan ubudiyah.

Kewajiban menuntut ilmu bagi setiap umat Islam itu berlaku sepanjang hayat atau dikenal dengan istilah long life education. Dalam hadits tersebut, Rasulullah memerintahkan untuk menuntut ilmu  sejak masih dalam ayunan / buaian (ibu) sampai  ke liang lahat (meninggal). Sehingga hanya kematianlah yang mampu menghentikan kewajiban seorang muslim dalam menuntut ilmu. Dengan demikian, dalam menuntut ilmu tidak ada istilah “sudah tua”. Boleh saja pendidikan formal lewat bangku sekolah atau kuliah telah selesai, tetapi kegiatan belajar kepada siapapun dan dimanapun harus tetap dilaksanakan hingga akhir hayat, baik di keluarga, pengajian di masjid, majlis-majlis taklim, dan lain sebagainya.

Sejalan dengan itu, Islam memang tidak membatasi tempat di mana kita harus mencari ilmu. Dimanapun keberadaan ilmu, Islam memerintahkan untuk mencarinya, sekalipun sampai ke negeri Cina sebagaimana ditegaskan dalam hadits di atas, yaitu “ carilah ilmu meskipun sampai ke negeri  Cina”. Hadits tersebut juga mengisaratkan bahwa menuntut ilmu itu harus mau bersusah payah. Betapa tidak ? Coba renungkan ! Perjalanan dari Tanah Suci ke Cina saat itu dapat berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, serta banyak rintangan yang harus dilalui seperti badai gurun pasir, banyaknya penyamun, sulitnya membawa perbekalan, dan belum lagi sulitnya memenuhi keperluan hidup selama belajar di rantau, karena saat itu belum ada sarana pengiriman uang lewat wesel atau tansfer lewat Bank maupun barang lewat kiriman paket seperti sekarang. Tentu perintah Rasulullah SAW tersebut baru dapat terlaksana bila yang bersangkutan mempunyai kebulatan niat yang kuat, keuletan yang tinggi, punya sifat kemandirian, dan kerja keras. Sehingga melalui pesan hadits itu seolah-olah Rasulullah SAW  ingin berpesan kepada kita semua bahwa belajar itu harus didasari oleh niat yang kuat, keuletan, kemandirian, dan kerja keras atau mau bersusah payah dan tidak manja. Karena itu pula dalam hadits di atas Rasululllah SAW menyejajarkan kedudukan orang yang menuntut ilmu  sama dengan orang yang sedang jihad fisabilillah.

Selain niat yang kuat, ulet, mandiri, dan kerja keras, hal lain yang tidak boleh dikesampingkan dalam menuntut ilmu adalah hormat dan berlaku baik kepada guru sebagaimana yang tersebut dalam sabda Rasulullah SAW di atas. Menurut Imam Az-Zarnuji dalam Kitab “Ta’limul Muta’allim” salah satu penyebab tidak manfaatnya ilmu yang dimiliki oleh para generasi sekarang adalah kurang tawadhu’ atau kurang hormatnya siswa kepada guru. Indikasi tidak bermanfaatnya ilmu itu adalah ilmu yang dimilikinya itu tidak mampu mendekatkannya kepada Allah dan tidak melahirkan kepatuhan kepada-Nya, bahkan semakin menjauhkannya dengan Allah, serta tidak dapat mendatangkan kemanfaatan bagi orang banyak, bahkan sebaliknya acapkali merugikannya. Akibatnya seperti yang dapat kita lihat di negeri ini, banyak orang pinter yang pada akhir karirnya tidak selamat akibat olahnya sendiri. Na’udzu billahi min Dzalika. Sebaliknya seorang yang manfaat ilmunya, ia akan memiliki kemantapan iman serta patuh dan tawadhu’ kepada Allah. Firman Allah SWT :


وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [٢٢:٥٤]  


Artinya,“Dan agar orang-orang yg telah diberi ilmu meyakini al-Qur’an itulah yang hak (petunjuk yang benar) dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepada-Nya.” (QS.al-Hajj/22: 54).

Hadits di atas juga menerangkan tentang berbagai keutamaan yang diberikan Allah SWT kepada orang yang mau menuntut ilmu, diantaranya diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT karena semua makhluk di dunia ini termasuk semua binatang yang hidup di lautan memohonkan ampun kepadanya,  dimudahkan jalan baginya oleh Allah SWT jalan menuju surga, serta dinaungi dan dimuliakan oleh malaikat dengan mau meletakkan sayapnya untuk jalan orang yang menuntut ilmu.

Selain itu Allah juga akan mengangkat derajat orang yang  beriman dan berilmu lebih tinggi beberapa derajat daripada orang yang tidak berilmu. Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa  Nabi Muhammad SAW memberikan perumpaan keutamaan seorang yang alim (berilmu) dengan seorang abid (ahli ibadah) itu diperumpamakan perbandingannya antara bulan dengan bintang. Perumpamaan Nabi tersebut sangat masuk akal, sebab seorang yang alim itu  memiliki ilmu yang manfaatnya tidak terbatas hanya bagi dirinya, tetapi juga dapat dirasakan bagi orang lain, baik  melalui pengajaran yang diberikan atau membaca karya tulisnya. Sedangkan ibadahnya abid manfaatnya terbatas hanya pada  dirinya. Disamping itu, ilmu pengaruhnya tetap abadi dan lestari selama masih ada orang yang memanfaatkannya, meskipun sudah beberapa ribu tahun. Seperti temuan para ilmuwan Muslim pada zaman dahulu hingga sekarang masih terus dimanfaatkan orang. Berbeda dengan amal ibadah, seperti melakukan shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya juga mendapatkan balasan pahala oleh Allah, akan tetapi semua ini segera berakhir dengan berakhirnya pelaksanaan dan kegiatan sang pelakunya. Seperti penjelasan hadits Nabi Muhammad yang sudah sangat populer di kalangan umat Islam, yaitu jika anak Adam meninggal dunia, semua amalnya terputus kecuali tiga hal: shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya.



Dalam Al-Qur`an Allah juga berulang-ulang menegaskan akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.  Allah juga mengingatkan kepada manusia untuk berfikir dan merenungkan, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui

Selasa, 13 November 2012

Visi dan Misi

Visi dari IQOMAH
  1. Mempelajari dan Mengetahui Uraian daripada isi dan makna Rukun Islam
  2. Setelahnya mempelajari diharapkan bisa mengamalkannya secara Nyata, Utuh Benar dan Sungguh-sungguh
  3. Tidak berpikir muluk-muluk, tetapi mau mengamalkan dengan mengawali hal-hal yang kecil atau dianggap sepele.
  4. tidak ada rasa putus asa, karena mau belajar mengawali sesuatu dari hal-hal yang kecil atau dianggap sepele (artinya merencanakan yang besar dengan melakukan persiapan-persiapan dasar)

Misi dari IQOMAH

Mengajak kepada seluruh Umat Islam terutama yang sudah Baligh tidak terkecuali semua kalangan baik yang muda ataupun yang tua, baik anak-anak, remaja, pemuda, pemudi, orang tua, dan yang merasa beragama Islam untuk bersama-sama  kembali mengkaji, mempelajari isi dan makna dari pada Rukun Islam secara nyata, utuh, benar dan sungguh-sungguh, dengan harapan bisa diamalkan secara nyata, utuh, benar dan sungguh-sungguh pula