Rabu, 14 November 2012

Dzikrulloh


Ketika seseorang memiliki keinginan untuk belajar dzikir, maka orang tersebut telah diberi ilham dan nikmat yang paling besar oleh Allah SWT. Terlebih lagi dengan terus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sholat hukumnya wajib begitu pula dzikir. Allah berfirman : Dirikanlah shalat untuk berdzikir (mengingat) kepadaKu. Jelas sekali bahwa Allah memerintahkan shalat supaya kita berdzikir (mengingat) kepada-Nya. Jika shalat tidak menghasilkan dzikir kepada-Nya maka shalat tersebut tidak bisa memenuhi perintah Allah di atas.

Didalam shalat itu harus ada tiga hal yang sangat penting :Rukun Qolbiyah Yaitu hadirnya hati (qalbu) untuk selalu berdzikir (ingat) kepada Allah SWT. Wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. adalah shalat hati yang merupakan shalat pertama kali yang diperintahkan oleh Allah SWT. Setelah kurang lebih 12 tahun barulah Allah memanggil Rasulullah (Isra Mi'raj) untuk mendapatkan perintah shalat lima waktu yang kemudian diikuti oleh perintah puasa, zakat dan haji.Rukun Fi'liyah Yaitu berupa gerakan-gerakan yang harus yang harus ada dalam shalat seperti : berdiri, ruku', i'tidal, sujud dan lain-lain.Rukun Qouliyah. Yaitu berupa bacaan-bacaan yang harus diucapkan didalam setiap gerakan shalat.

Ketiga hal tersebut di atas disebut rukun, karena ketiganya tidak boleh tidak harus ada dalam shalat. Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang dilaksanakan dengan hati yang selalu mengingat Allah (berdzikir), dengan gerakan-gerakan dan ucapan yang benar. Syeikh Abdul Qodir dalam kitabnya Sirrul Asror pasal 14 tentang shalat syari'at dan shalat tarekat mengatakan bahwa dalam shalat itu harus disatukan antara jasad, nyawa, dan rasa. Jangan sampai jasadnya shalat tetapi hatinya ingat ke pekerjaan, anak dan istri, harta dan lain-lain. Melalui tarekatlah ketiga hal diatas dapat disatukan untuk bersama-sama menghadap Allah SWT.


Dzikir berasal dari kata dzakara yang bisa bermakna:menyebut-nyebut (dengan mulut); atau mengingat, mengenang, merasakan, menghayati (dengan qalbu).
Dzikir Jahri (nyata) dan Dzikir Sirri (rahasia)
Dan rahasiakanlah (sirri) perkataanmu atau nyatakanlah (jahri); sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang bergejolak di dalam dada”(QS. 67:13)
Dzikir Jahri dilakukan mulut dengan menyebut-nyebut bacaan (lafazh):
IstighfarTasbihTahmidTahlilTakbirdan lain-lain ayat al-Qur’an atau wirid
Karenanya Dzikir Jahri nyata terdengar suaranya dan nyata terlihat getar bibir mengucapkannya. Bila dilakukan berjamaah suara Dzikir Jahri kadang menggemuruh menimbulkan rasa mencengkam dan rendah di hadapan Allah.
Sesungguhnya bergemuruhnya suara orang berdzikir saat usai shalat fardhu betul-betul terjadi di masa Rasulullah s.a.w. Aku dapat mengetahui orang sudah usai shalat (berjamaah di masjid Nabi) ketika kudengar suara dzikir itu.(H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad).
Dzikir Sirri tidak menggunakan mulut, melainkan dzawq (perasaan) dan syu`ûr (kesadaran) yang ada di dalam qalbu. Karenanya dzikir ini menjadi tersamar (khafiy) dan hanya pelaku serta Allah s.w.t. saja yang dapat mengetahuinya.
Dalam Dzikir Sirri orang mengingat Allah, merasakan kehadiran Allah, menyadari keberadaan Allah. Di dalam qalbunya tumbuh rasa cinta, rasa rindu kepada Allah, rasa dekat, bersahabat, seakan melihat Allah. Itulah ihsân, dimana dalam ibadahmu kamu merasa melihat Allah, atau setidaknya merasa sedang dilihat oleh Allah s.w.t. Inilah dzikir yang hakiki, sebab hubungan manusia dengan Allah swt tidak terjadi dengan tubuh jasmaninya melainkan dengan qalbunya.
“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berhubungan dengan manusia melalui qalbunya”.(QS. 8:24)
Saat melakukan dzikir sirri orang mengaktifkan qalbunya mengingat Allah sehingga dirinya on-line (tersambung, wushûl) dengan Allah. Saat itulah terjadi penyerapan nûr ilâhi (divine light) kedalam qalbu sehingga terjadi proses pencerahan (enlightenment).
Nur ilahi yang menembus qalbu akan terpantulkan ke otak yang menjadi pusat kendali tubuh manusia. Mekanisme biokimia dan bioelektrik pada sel-sel otak akan dikendalikan oleh nur ilahi sehingga menimbulkan gelombang-gelombang alpha yang menenteramkan saraf, membangkitkan kreatifitas sekaligus rasa cinta ke sekujur tubuh; menepis rasa takut dan cemas; mengganti kekecewaan dengan harapan, kemarahan dengan kedamaian, malas dengan semangat.
Tersingkaplah tirai kebodohan (kasysyâf), terbukalah wawasan baru, hadir di hadapan taman kehidupan taqwa yang penuh pelangi mahabbah diharumi semerbak ridha ilahi.
Nûr ilâhi mengandung:
  • Enerji Maghfirah, yang membakar hangus dosa-dosa di qalbu, menepis sesal, menjungkal kecewa dan malas.
  • Enerji Himmah, kemauan kuat yang mendorong orang bekerja keras (work hard) penuh semangat.
  • Enerji Hidâyah, petunjuk dan inspirasi kreatif yang mendorong orang bekerja dengan cerdas (work smart).
  • Enerji Rahmah, enerji cinta yang mendorong orang bekerja bersama dengan dengan tulus ikhlas (work heart) tanpa pamrih, terbebas dari nista moral.
  • Enerji Barâkah, semangat kemulian dan harga diri, kemantapan pribadi yang tangguh mengendalikan hawa nafsu dan godaan iblis.
Maka jangan puas hanya dengan dzikir mulut, tembuskan dzikir kedalam qalbu, getarkan qalbu dengan rasa rindu kepada Allah, getaran yang juga menggoncang sel-sel kelenjar hormon untuk aktif menjaga keseimbangan hormon di dalam tubuh. Hormon adalah pengendali metabolisme tubuh. Dengan dzikir sirri metabolisme akan berjalan lancar alamiah menimbulkan kehangatan dan daya tahan tubuh (immune) terhadap berbagai penyakit.
Hidupkan Qalbu dengan Dzikir Sirri

Ada banyak lafazh dzikir seperti: subhânallâh, alhamdulillâh, allâhuakbar dan lain-lain. Namun menurut Rasulullah s.a.w.:
Dzikir yang paling utama adalah: Lâ-ilâha-illa-llâh(HR. Ahmad)
Dzikir ini diawali dengan penafian (lâ-ilâha):- tiada tuhan- tiada yang didamba- tiada yang diharap- tiada yang dicintai- tiada yang sembah- tiada yang dipuja- tiada yang dimuliakan- tiada yang dijadikan tempat bergantung- tiada yang disegala-galakan…
lalu disambung dengan peneguhan (illa-llâh):- kecuali Allah- hanya Dia
Dengan penafiannya dzikir ini membersihkan manusia dari segala bentuk ‘ketuhanan’ palsu, dengan peneguhannya dzikir ini memantapkan iman di dalam qalbu. Iman yang fluktuatif, selalu naik dan turun, perlu selalu diperbarui sebagaimana kata Rasulullah saw:
Rasulullah s.a.w: “Perbaharuilah selalu imanmu”.Dikatakan: “Bagaimana kami memperbaharui iman kami?”Rasul: “Dengan memperbanyak ucapan Lâ-ilâha-illallâh”(HR. Ahmad)
Bagaimana cara menghidupkan qalbu? Bagaimana cara menghunjamkan dzikir jahri dari mulut agar tembus menjadi dzikir sirri di dalam qalbu?
“…maka bertanyalah kepada ahli dzikir (bukan ahli fikir! – pen.) jika kamu tidak mengetahui.”(QS. 16:43)
Ada banyak metode (thariqah) yang digunakan para ahli dzikir, diantaranya metodeQadiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya:
  1. Gunakan Dzikir Utama berulang-ulang
  2. Lewatkan titik-titik lathifah (sensor) untuk menghunjam masuk ke dalam qalbu
  3. Sertakan hentakan/tekanan (dharban) yang kuat
  4. Rasakan jangan fikirkan
Titik Sensor (Lathifah)
Dzikir Jahri yang diucapkan dengan mulut harus ditembuskan ke pusat ruh yaitu Qalbu, kalau tidak ia hanya akan menjadi gelombang-gelombang suara yang lepas mengembara di angkasa tanpa menembus alam lâhût dan `arasy Allah. Untuk menembuskannya, saat mulut melafazhkan kalimat Lâ-ilâha-illa-llâh kita jalarkan kalimat tersebut pada titik-titik lathifah/sensor:
1. Lathifah Qalbi
2. Lathifah Ruhi
3. Lathifah Sirri
4. Lathifah Khafa
5. Lathifah Akhfa
6. Lathifah Nafs
7. Lathifah Qalab
Pengucapan kalimat Lâ-ilâha-illa-llâh dilakukan dengan suara tegas, dirasakan / dijalarkan dari bawah pusar keatas hingga ubun-ubun, lalu ke sebelah kanan dari titik 2 jari di atas puting susu ke arah titik 2 jari dibawah putting susu, lalu ke sebelah kiri dari titik 2 jari di atas putting susu dihunjamkan ke titik 2 jari di bawah putting susu kiri. Penjalaran dzikir ini diarahkan dengan gerakan kepala ke atas, lalu ke kanan dan ke kiri.
Semua itu dilakukan dengan tekanan/ hentakan yang kuat (dharban) kedalam tubuh hingga terasakan kedalam ruh/jiwa orang yang melakukannya. Lakukan itu berulang-ulang, sebanyak-banyaknya, sehingga terbentuk apa yang disebut the magical power of repetition.
“…dzikirkan olehmu Allah sebanyak-banyaknya.”(QS. 33:41)
Dalam melakukannya jangan gunakan fikiran, tapi gunakan rasa, karena berdzikir memang bukan berfikir. Allah swt tegas membedakan dzikir dengan fikir di dalam QS. Ali Imran 3:191. Sekali lagi: rasakan, jangan fikirkan!
Manakala dzawq (rasa) di dalam qalbu telah dapat merasakan iman tawhid maka Dzikir Jahri boleh dihentikan dan diganti dengan Dzikir Sirri.
Kadang orang masih penasaran bertanya, sebanyak-banyaknya itu berapa kali? Para ulama dzikir menyatakan sekurang-kurangnya 5 x 33 alias 165 kali. Orang sudah biasa berdzikir 33 kali, lakukanlah Dzikir Jahri ini 5 kali lipatnya sehingga menjadi 165.
Apakah harus tepat sejumlah itu? Tidak harus! The more the better (makin banyak, ya makin baik). Ibarat orang mengaduk adonan kue/roti, adukan itu harus mencukupi hingga adonan mengembang, lalu dibakar di oven. Kalau adukan kurang memadai dan adonan belum mengembang lalu langsung dibakar dengan oven apa jadinya? Bantat. Begitu pula dzikir. Kalau Dzikir Jahri kurang kuat tekanannya, atau kurang banyak pengulangannya, maka ia belum sampai menembus dan menggetarkan qalbu. Kalau langsung dihentikan maka Dzikir Sirri belum terbentuk di qalbu, akibatnya qalbu belum terhubung ke Allah SWT, nikmat dan manfaat dzikir pun tidak tercapai.
Muncul pula pertanyaan mengapa pengarahan jalaran dzikir itu menggunakan gerakan kepala ke atas, ke kanan, lalu ke kiri? Ulama dzikir dalam istinbatnya menarik hikmah dari ayat:
Iblis: “Lalu akan aku datangi manusia dari hadapan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan mereka, dan dari kiri mereka…” (QS. 7:17)
Gerakan dzikir ke atas maksudnya untuk menepiskan iblis yang menyerang dari depan dan belakang, gerakan dzikir ke kanan dan ke kiri untuk menepiskan iblis yang ada di kanan dan kiri.
Tawajjuh (menghadapkan diri kepada Allah SWT) terjadi dalam Dzikir Sirri. Dzikir Sirri dilakukan denganmenundukkan kepala dalam-dalam, arahkan ke titik lathifah qalbi di bawah puting susu kiri, memejamkan mata, mengatupkan bibir (kalau perlu lidah pun dilipat ke langit-langit atas agar tak ikut bergetar), lalu rasakan asma Allah menelusup masuk ke qalbu.
Apabila sebelumnya telah melakukan Dzikir Jahri dengan tepat maka pada saat Dzikir Sirri di qalbu akan ada rasa:
  • Rasa terbakar, kehangatan yang menjalar dari api cinta dan rindu kepada Allah SWT.
  • Rasa tenggelam, terhanyut dalam lautan rahmat Allah SWT, terengkuh dalam pelukan qudrat-Nya dan tertimang dalam buaian iradat-Nya.
  • Rasa terguncang, terguncangnya jiwa dan raga oleh getaran qalbu yang berdzikir mengingat Allah (QS. Al-Anfal 8:2).
  • Puncaknya adalah air mata kebahagiaan yang mengalir dari taman taqwa di dalam qalbu.
Burung terbang dengan dua sayap…Ruh melayang dengan dua dzikir: jahri dan sirri
 Talqîn DzikirSebagai persiapan untuk dapat berdzikir dengan baik, qalbu dan lathifah-lathifah yang menjadi sensornya harus mengalami tune up atau initiation lebih dulu. Semua perangkat itu harus menjalani proses aktifasi lebih dulu. Itulah yang disebut dengan talqin dzikir.
  • Berasal dari kata laqqana (membelajarkan), maka talqiynâ (pembelajaran).Talqin Dzikir = Pembelajaran Dzikir:
  1. Proses ruhaniyah
  2. Menanamkan bibit dzikir ke dalam qalbu murid
  3. Menghubungkan qalbu murid dengan qalbu mursyid agar masuk dalam pantauannya.
  • Dilakukan oleh wali mursyid (wali pembimbing) yang:
  1. Taqwa
  2. Qalbunya dawâm (ajeg) dalam dzikrullah,
  3. Kuat dalam tawhid,
  4. Tercahayai oleh nur ilahi.
  • Talqin Dzikir dapat mursyid lakukan melalui wakil talqin.
Cermin yang jernih tak perlu sapuan lap, 
Qalbu yang jernih tak peduli ucapan lafazh…
Kalau dzikir hanya sebatas mulut,Bukankah burung beo peniru nomor satu?Alla…hu, Huwa…, Hu…

Oleh: K.H Wahfiudin S. dan K.H. Muhammad Ghous Saefulloh Almaslul 



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar